xiaomi kesehatan dan kecantikan

Senin, 02 Februari 2009

Balada Uang Seribu dan Seratus Ribu

Konon uang seribu dan seratus ribu memiliki asal-usul yang sama tapi mengalami nasib berbeda. Keduanya dicetak di PERURI dengan bahan dan peralatan berkualitas. Kali pertama keluar dari PERURI, uang seribu dan seratus ribu �berwajah� bagus, berkilau, bersih, harum, dan menarik. Setelah tiga bulan keluar dari PERURI, uang seribu dan seratus ribu bertemu di dompet seseorang dalam kondisi yang berbeda.
�Ya, ampun...darimana saja kamu, kawan? Baru tiga bulan kita berpisah, kamu lusuh banget? Kumal, kotor, lecet, dan bau! Padahal waktu kita sama-sama keluar dari PERURI, kita sama-sama keren kan?! Ada apa denganmu?� ujar uang seratus ribu kepada uang seribu.

Uang seribu menatap uang seratus ribu yang masih keren, dengan perasaan nelangsa. Sambil mengenang perjalanannya, uang seribu berkata, "Ya, beginilah nasibku, kawan. Sejak kita keluar dari PERURI, hanya tiga hari saya berada di dompet yang bersih dan bagus. Hari berikutnya saya pindah ke dompet tukang sayur yang kumal. Dari dompet tukang sayur, saya beralih ke kantong plastik tukang ayam. Plastiknya basah, penuh dengan darah, dan tahi ayam. Besoknya lagi, aku dilempar ke plastik seorang pengamen. Dari pengamen hanya sebentar dan lantas aku nyaman di laci tukang warteg. Dari laci tukang warteg, saya berpindah ke kantong tukang nasi uduk. Begitulah perjalananku hari ke hari. Itu makanya saya bau, kumal, lusuh, karena sering dilipat-lipat, digulung-gulung, dan diremas-remas."

Uang seratus ribu mendengarkan dengan prihatin. Dia merasa sedih kawannya tidak mendapatkan perhatian layak sebagaimana dirinya.

"Menyedihkan sekali perjalananmu, kawan! Berbeda sekali dengan pengalamanku. Kalau aku, sejak kita keluar dari PERURI, aku disimpan di dompet kulit yang bagus dan harum. Setelah itu aku pindah ke dompet seorang wanita cantik. Hmmm... dompetnya harum sekali. Setelah dari sana, aku berpindah-pindah. Kadang-kadang aku ada di hotel berbintang lima, masuk ke restoran mewah, ke showroom mobil mewah, tempat arisan ibu-ibu pejabat, dan di tas selebritis. Pokoknya aku selalu berada di tempat yang bagus. Jarang aku di tempat yang kamu ceritakan itu. Aku juga jarang bertemu teman-temanmu," kata uang seratus ribu mengenang perjalanan hidupnya.

Uang seribu terdiam sejenak. Dia menarik nafas lega. "Ya. Nasib kita memang berbeda. Kamu selalu berada di tempat yang nyaman,� kata uang seribu.

�Tapi ada satu hal yang selalu membuat saya senang dan bangga dengan diriku dan teman-temanku!" ujar uang seribu dengan wajah sumringah.

"Apa itu?" tanya uang seratus ribu penasaran.

"Aku sering bertemu teman-temanku di kotak amal mesjid dan tempat ibadah lain. Hampir setiap minggu aku mampir di tempat-tempat itu. Jarang aku melihat kamu atau teman-temanmu disana," ujar uang seribu mantap.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar